![]()
JEJAKNEWS.ID, Makassar,- Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil hadir membuka langsung Musyawarah Daerah (Musda) ke-11 Golkar Sulawesi Selatan, di Makassar, Sabtu (18/7/2026).
Mengawali sambutannya, Bahlil langsung memamerkan kedekatan emosionalnya yang begitu mendalam dengan lokasi acara, yang sukses memikat hati ratusan kader yang hadir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sambil mengenakan passapu berwarna kuning khas Sulawesi Selatan, Bahlil berseloroh bahwa Hotel Claro bukanlah tempat yang asing baginya. Sejak masih merintis karier sebagai pengusaha, ia sudah sangat akrab dengan setiap sudut tempat tersebut.
“Bagi saya, tempat ini, Claro, ini bukan tempat yang baru. Sejak saya menjadi pengusaha, tahu betul jalan-jalan ini. Selokan-selokannya pun saya tahu. Masih ada jalan di pojok sana, menaik tangga-tangga, semua hal saya tahu,” ujar Bahlil disambut tawa riuh dan tepuk tangan para peserta Musda.
Nostalgia Bahlil di tempat tersebut ternyata sangat panjang. Ia mengenang momen tahun 2010 saat dirinya yang kala itu masih menjabat sebagai Bendahara Golkar Provinsi Papua, harus bergerilya di Hotel Claro demi melobi suara kader AMPI Sulsel untuk maju sebagai Ketua Umum AMPI.
Dalam pidato yang berlangsung cair namun sarat makna politik tersebut, Bahlil memberikan analisis menarik mengenai konstelasi politik nasional. Ia mengakui bahwa secara historis, Sulawesi Selatan selalu menjadi kiblat, cerminan, dan simpul utama kejayaan Partai Golkar di wilayah Indonesia Timur.
Namun, mantan Menteri Investasi ini dengan jenaka mengingatkan hadirin bahwa konstelasi kini telah bergeser akibat adanya kompetisi yang sehat.
“Ternyata, setelah kita pikir jauh lebih dari itu, matahari itu ternyata tidak terbit dari tengah, yaitu dari timur. Dan dari timur itu dari Papua dan Maluku. Habis itu baru berbeda satu jam, masuk ke Makassar, baru dia masuk ke Jakarta,” kelakar Bahlil yang langsung disambut sorak-sorai penonton.
Di balik rentetan kelakar segarnya, Bahlil menunjukkan ketegasan luar biasa sebagai pemimpin tertinggi partai beringin. Berdasarkan laporan yang ia terima, selama satu dekade terakhir, pelaksanaan Musda Golkar Sulsel kerap kali ditarik dan diselesaikan di Jakarta, bukan di tanah asalnya.
Bahlil mengkritik keras tradisi lama tersebut. Menurutnya, hal itu sangat tidak tepat karena esensi dari sebuah Musda adalah forum konsolidasi daerah untuk menguji daya saing para petarung politik sejati di daerahnya sendiri.
“Sah-syaratnya sebuah musda, itu harus dilakukan di daerah. Karena itu saya memerintahkan bahwa enggak boleh musda dilakukan di Jakarta, harus di Sulawesi Selatan!” tegas Bahlil.
Menutup pidatonya, Bahlil mengapresiasi kinerja jajaran pengurus terdahulu, termasuk loyalitas yang ditunjukkan oleh Taufan Pawe.
Ia pun menitipkan pesan krusial kepada seluruh peserta Musda ke-11 ini untuk fokus pada tiga substansi utama: evaluasi, penyusunan program kerja strategis, dan pemilihan ketua baru.

Bahlil mendesak agar tim formatur dan ketua terpilih nantinya segera merumuskan langkah taktis dan terukur demi satu tujuan kolektif: mengembalikan kejayaan mutlak Partai Golkar di Sulawesi Selatan.
















