JakartaNews

Di Pabrik Obat Pertama Indonesia, BPOM HUT 25 Kuatkan Arah Ketahanan Kesehatan Bangsa

JEJAKNEWS.ID, Jakarta — Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) menandai usia 25 tahun pengabdiannya dengan langkah simbolik penuh makna: mengunjungi pabrik obat pertama di Indonesia, Gedung PT Kimia Farma Tbk di Jalan Veteran, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (13/1/2026).

Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., yang didampingi jajaran pejabat tinggi dan pakar strategis di lingkungan BPOM. Turut hadir mendampingi, Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif Dr. William Adi Teja; Fungsional Utama Mayagustina Andarini; staf khusus Sediaan Farmasi Rita Endang; staf khusus humas dan hukum dr Wachyudi Muchsin Plt. Direktur Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Shanti Marlina; Direktur Registrasi Obat Tri Asti Isnariani; Direktur Pengawasan Keamanan Mutu dan Ekspor Impor Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif Nova Emelda; Direktur Standardisasi Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif Christine Siagian; serta Direktur Pengawasan Distribusi Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif Bayu Wibisono.Kunjungan ini bukan sekadar seremonial, melainkan refleksi sejarah panjang kemandirian farmasi nasional.

Lokasi yang kini menjadi bagian dari PT Kimia Farma Tbk tersebut dahulu dikenal sebagai Chemicalien Handle Rathkamp & Co, tonggak awal industri obat modern di Indonesia sejak era kolonial.

Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menyebut momentum ini sebagai napak tilas penting untuk mengingat bahwa kemandirian obat merupakan bagian dari ketahanan nasional.

“Di tempat inilah sejarah industri farmasi Indonesia bermula. Kita tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi meneguhkan kembali komitmen untuk membangun masa depan kesehatan bangsa yang mandiri, kuat, dan berdaya saing global,” ujar Taruna.

Ia mengingatkan bahwa meskipun BPOM secara resmi berdiri sebagai Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK) pada 2001, akar pengawasan obat dan makanan di Indonesia telah ada sejak 1807, dan terus bertransformasi dari sistem pengujian sederhana menjadi otoritas regulatori modern yang kuat dan independen.
Dalam refleksi sejarah tersebut, Taruna menekankan empat pilar utama pengawasan obat dan makanan masa kini: adaptif terhadap perkembangan teknologi, independensi kelembagaan, partisipasi aktif para pemangku kepentingan, serta harmonisasi dengan standar internasional.
Pada kesempatan yang sama, BPOM memberikan apresiasi kepada PT Kimia Farma Tbk atas langkah progresifnya membangun inovasi berbasis riset. Melalui kolaborasi strategis dengan berbagai kampus dan rumah sakit Kimia Farma kini telah menghasilkan produk Advanced Therapy Medicinal Products (ATMP) berupa Mesenchymal Stem Cell (MSC).
Inovasi ini dinilai sebagai bukti bahwa industri farmasi nasional telah melangkah ke era terapi maju berbasis bioteknologi.

“Ini adalah wujud nyata sinergi Academia, Business, dan Government (ABG). Riset di kampus dapat dihilirisasi menjadi produk, dan negara hadir melalui BPOM untuk memastikan mutu, keamanan, serta kepastian regulasinya,” tegas Taruna.

Dengan pencapaian BPOM sebagai WHO Listed Authority (WLA), ia menilai peluang produk farmasi Indonesia untuk menembus pasar global semakin terbuka.

“BPOM berkomitmen memberikan regulatory support agar industri farmasi nasional tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga tamu terhormat di pasar internasional,” ujarnya.

Kunjungan ke pabrik obat pertama Indonesia ini pun menjadi simbol kuat pertautan antara sejarah, inovasi, dan masa depan. Dari gedung bersejarah di Jalan Veteran, BPOM meneguhkan langkah menuju ketahanan kesehatan nasional dan cita-cita besar Indonesia Emas 2045.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button