JEJAKNEWS.ID, Sidrap,-Di balik gelar Juara I Desa Berprestasi Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan 2026, Desa Kalosi Alau, Kecamatan Dua Pitue, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), menyimpan cerita tentang beragam inovasi yang tumbuh dari kebutuhan masyarakat.
Bukan hanya soal pelayanan pemerintahan, inovasi di desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Wajo ini juga menyentuh pengelolaan wilayah, pemberdayaan masyarakat, hingga sektor pertanian.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Andi Apris, S.I.P., Kalosi Alau mengembangkan inovasi dalam empat bidang utama, yakni pemerintahan, kewilayahan, kemasyarakatan, dan pertanian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Keempatnya menjadi bagian dari upaya desa menghadirkan pelayanan yang lebih mudah, mengembangkan potensi warga, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Di bidang pemerintahan, Kalosi Alau mengembangkan Desa KUPAS (Kalosi Alau Pelayanan Berbasis Sampah Plastik). Program ini memadukan pelayanan publik dengan pengelolaan sampah plastik, sehingga persoalan lingkungan dapat dihubungkan dengan kebutuhan pelayanan masyarakat.
Digitalisasi juga menjadi bagian dari pembaruan pelayanan. Desa menerapkan sejumlah sistem, seperti SIBERAS, SRIKANDI, ALAKO, dan Layanan SIBILLAE, untuk mempermudah masyarakat mengakses layanan desa.
Pada sisi administrasi, pelaporan keuangan dan administrasi desa dilakukan secara daring melalui SISKEUDES dan SIKS-NG. Langkah ini mendukung pengelolaan administrasi dan keuangan yang lebih tertib, transparan, serta akuntabel.
Kalosi Alau juga memberi perhatian pada literasi masyarakat melalui keberadaan Perpustakaan Desa dan Perpustakaan Online yang memungkinkan warga mengakses bahan bacaan dengan lebih mudah.
Inovasi kemudian berlanjut pada pengelolaan wilayah. Salah satunya melalui PETA, yakni pemetaan digital UMKM berbasis Google Maps.
Melalui pemetaan ini, keberadaan dan potensi UMKM di wilayah Kalosi Alau dapat terdokumentasi sekaligus lebih mudah ditemukan masyarakat. Langkah tersebut membuka peluang bagi usaha warga untuk semakin dikenal.
Di sisi lain, desa mengembangkan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai wadah ekonomi masyarakat. Pengelolaan lingkungan juga mendapat perhatian melalui Bank Sampah BUMDES MUJUR, yang mengajak masyarakat mengurangi sampah plastik sekaligus memberi nilai ekonomi dari sampah yang dikelola.
Cerita inovasi Kalosi Alau tidak berhenti pada pemerintahan dan kewilayahan. Pemberdayaan masyarakat menjadi bagian penting dari pembangunan desa.
Melalui PKK, desa mengembangkan UMKM berbasis rumah tangga agar keluarga memiliki kegiatan usaha produktif. Kalosi Alau juga menjaga adat, seni, dan budaya sebagai bagian dari identitas masyarakat desa.
Pembinaan keagamaan, pelayanan kesehatan melalui Posyandu, serta pembangunan Desa Ramah Anak turut menjadi bagian dari inovasi kemasyarakatan. Pendekatan tersebut memperlihatkan pembangunan desa tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga pada kualitas kehidupan warga.
Sebagai desa yang memiliki potensi pertanian, Kalosi Alau juga menempatkan sektor ini sebagai salah satu kekuatan pembangunan.
Peningkatan saluran irigasi dilakukan untuk memastikan seluruh lahan sawah di desa mendapatkan pasokan air. Bahkan, 100 persen lahan sawah di Kalosi Alau disebut telah terairi dengan baik.
Teknologi tepat guna CAMPA’ TABELLA turut dimanfaatkan untuk membantu mempercepat dan mempermudah proses pengolahan lahan hingga panen.
Pengembangan pertanian berbasis agroteknologi juga menjadi langkah desa untuk memanfaatkan teknologi modern dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian secara berkelanjutan.
Deretan inovasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan Kalosi Alau hingga meraih Juara I Desa Berprestasi Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2026.
Gelar tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah penghargaan. Di baliknya, ada upaya desa menghubungkan teknologi dengan pelayanan, mengubah sampah menjadi peluang, memetakan usaha warga, memberdayakan keluarga, hingga memanfaatkan teknologi untuk menguatkan sektor pertanian.
Kalosi Alau menunjukkan bagaimana inovasi dapat tumbuh dari persoalan dan potensi yang ada di desa. Dari balai desa hingga hamparan sawah, berbagai pembaruan itu menjadi bagian dari cerita Kalosi Alau dalam membangun desa bersama masyarakat.
![]()
















