JEJAKNEWS.ID Sulsel, — Kelangkaan tabung gas elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram (kg) terus meluas dan memicu gejolak ekonomi di wilayah Sulawesi Selatan.
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, pada minggu, (6/9/2026 ) siang, oleh Tim LSM dan Media, krisis pasokan ini menghantam keras kawasan Kabupaten Jeneponto—khususnya Desa Paitana dan sekitarnya—serta kawasan Kecamatan Biringbulu di Kabupaten Gowa.
Di tengah minimnya ketersediaan barang di tingkat pengecer maupun pangkalan, harga gas bersubsidi yang lazim disebut “gas melon” tersebut meroket drastis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Warga di dua daerah terdampak kini terpaksa menebus satu tabung gas seharga Rp30.000 hingga Rp35.000, jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah daerah.
Dampak Sosial-Ekonomi dan Masalah Distribusi
Fenomena lonjakan harga ini merefleksikan rapuhnya tata kelola distribusi energi bersubsidi di tingkat tapak.
Bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pelaku usaha mikro di Desa Paitana maupun Kecamatan Biringbulu, kondisi ini menghadirkan tekanan ganda “Penurunan Daya Beli “Warga harus mengalokasikan beban finansial lebih besar hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar memasak.
“Kelumpuhan Usaha Mikro” Sejumlah pedagang kecil terpaksa mengurangi volume produksi atau menaikkan harga jual produk akibat membengkaknya biaya operasional.
Indikasi Mata Rantai Distribusi Bermasalah: Perbedaan harga yang timpang di tingkat konsumen mengindikasikan adanya kebocoran pasokan, potensi penimbunan oleh oknum tak bertanggung jawab, atau kendala logistik dari kuota pangkalan ke pengecer.
Gas elpiji 3 kg merupakan barang dalam pengawasan negara yang ditujukan bagi masyarakat kurang mampu. Ketika aksesibilitas hilang dan harga melambung hingga 80% dari tarif normal, fungsi subsidi energi tersebut secara substansial telah gagal sampai ke penerima manfaat yang tepat.
Urgentnya Intervensi Pemerintah dan Aparat
Kondisi kritis ini menuntut respons cepat dan terukur dari pemangku kepentingan. Pemerintah Kabupaten Jeneponto dan Kabupaten Gowa bersama Pertamina perlu segera menggelar pasar murah atau operasi pasar mendadak guna memulihkan pasokan serta menstabilkan harga di tingkat konsumen.
Dinas Perdagangan setempat bersama aparat penegak hukum (APH) harus mengusut tuntas rantai pasok di kawasan yang terdampak kelangkaan GE3 Kg, Pengawasan ketat dan sanksi tegas terhadap agen atau pangkalan nakal menjadi kunci utama untuk menghentikan spekulasi harga dan memastikan hak energi masyarakat miskin tetap terlindungi, Tegas Rudi*
(Rudi/Karo JN)






