Klasis Pulau Ambon Launching Buku “Mozaik Geliat Umat di Masa Pandemi”

  • Bagikan
Proses Penandatanganan Buku “Mozaik Geliat Umat di Masa Pandemi” dan Buku "Remaja dan Covid-19 oleh Ketua Klasis Pulau Ambon, Pdt. Richardo Rikumahu, M.Th

AMBON,JEJAKNEWS.ID,- Gereja Protestan Maluku (GPM) Klasis Pulau Ambon Launching Buku “Mozaik Geliat Umat di Masa Pandemi” terkait pengalaman dan refleksi Jemaat GPM Klasis Pulau Ambon dimasa Pandemic Covid-19.

Buku “Mozaik Geliat Umat di Masa Pandemi” ini diluncurkan bersamaan dengan buku “Remaja dan Covid-19” yang merupakan kumpulan tulisan/esai Remaja Sektor Karmel, Jemaat GPM Bethesda  terkait keadaan remaja dimasa pandemic Covid-19.

Peluncuran buku ini dirangkai dalam kegiatan Bincang Buku GPM Klasis Pulau Ambon yang berlangsung di Gedung Gereja Bethesda Air Salobar, Minggu (05/09), dengan menghadirkan Akademisi Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Pdt. Dr. John Ruhulessin, M.Si sebagai pembedah buku.

Ketua Klasis Pulau Ambon, Pdt. Ricardo Rikumahu, M.Th dalam pengantar mendahului kegiatan itu menyampaikan, buku yang dihasilkan oleh Remaja dan Balitbang di Klasis Pulau Ambon itu merupakan upaya untuk menemukan respons jemaat-jemaat atas kehidupan iman kritiani pada saat pandemic Covid-19. Sekaligus memperbiasakan jemaat untuk mendokumentasikan hasil karya jemaat yang dapat berguna bagi banyak orang.

“Respons ini penting sebab disitulah kita menemukan bagaimana teologi itu bertumbuh dari pengalaman hidup umat Tuhan yang nyata” uangkapnya

Rikumahu katakan, alasan dilakukan riset hingga penerbitan buku oleh Klasis Pualau Ambon dikarenakan banyak anggota jemaat yang terpenjara dengan berita-berita yang membuat mereka ragu akan kebenaran Covid-19 itu sendiri.

Keraguan itu kata Rikumahu, nampak dalam tindakan beberapa kasus, diantaranya perampasan jenazah yang terkonfirmasi positif Covid-19 di RSUD Haulusy, kemudian menolak untuk ditraking, dan lainya. Dan itu terjadi dikalangan warga jemaat GPM di Klasis Pulau Ambon. Karena itu untuk menemukan presfektif yang baik guna membenahi cara pandang jemaat, maka tidak bisa hanya sebatas menggunakan berita-berita media sosial atau media masa sebagai alat klarifikasi dijemaat.

“Kita harus menggunakan data-data kita sendiri dan data-data itu hanya bisa dilakukan melalui riset. Sehingga riset mulai dilakukan. November 2021 samapai awal Januari 2021 riset dilakukan dan setelah data-datanya diperoleh baru dilanjutkan dengan penulisan buku.” Tutur Rikumahu

Ketua Klasis Pulau Ambon itu menyadari sungguh hasil karya dari Remaja dan Balitbang di kalsis Pulau Ambon itu belum sempurna, sehingga masih dibutuhkan berbagai masukan guna memperbaiki hasil karya itu kedepan. Namun diyakini kedua buku tersebut dapat menjadi dasar guna mencari dan menemukan serta mengembangkan pandangan-pandangan hidup jemaat secara grejawi di Pulau Ambon.

“Ini penting, sebab pandemic Covid-19 telah mengubah cara hidup manusia secara menyeluruh di dunia. Dan kita sedang hidup didalam perubahan seperti itu. “ Ungkap Rikumahu

Foto Bersama Pdt. Dr. John Ruhulessin, Rektor IAKN Ambon, Dekan Fakultas Teologi UKIM, Ketua-ketua Klasis dalam lingkup Pulau Ambon, Ketua Klasis Pulau Banda dan Ketua-Ketua Majelis Jemaat dalam Lingkup Kalsis Pulau Ambon.

Secara internal di Klasis Pulau Ambon, hasil riset yang dilakukan oleh Balitbang telah memberikan banyak masukan bagi Klasis Pulau Ambon untuk segera memperbaharui atau mengubah strategi pelayanan gereja di klasis. Tantangan-tantangan yang ditemukan itu sangat praktis. Mungkin kecil dan nyaris hilang dari pandangan mata. Tetapi hal tersebut telah mengubah cara hidup banyak orang.

“Kita temukan misalnya diantara perubahan yang terjadi salah satunya yaitu peran ganda perempuan bagi ibu didalam rumah, yang oleh Ibu Pendeta Nensi Souisa, mengatakan bahwa “Ibu-ibu tidak lagi menjadi ibu kandung bagi anaknya tetapi sudah menjadi ibu guru bagi anaknya”. Tutur Rikumahu

Dijelaskan, dari hasil riset juga terdapat domistikasi pekerjaan yang terjadi didalam keluarga, diantaranya, laki-laki yang awalnya berurusan dengan hal-hal yang berlangsung diruang publik, kini harus berperan didalam rumah dan sebaliknya perempuan-perempuan yang bekerja secara domistik didalam rumah telah keluar berperan membantu keluarganya untuk berjuang didalam kehidupan keluarga mereka.

“Ini penggalan-penggalan pengalaman yang kita temui saat melakukan riset sejak bulan November sampai awal Januari 2021.” Jelasnya

Kata Rikumahu, dari hasil riset itu menunjukan pandemic Covid-19 memang merupakan musuh yang tidak terlihat secara kasat mata, akan tetapi bukan berarti musuh yang tidak terkalahkan. Sehingga gereja harus mempunyai cara untuk mengalahkan atau melawannya dan cara yang ditawarkan yaitu memperbaiki lagi kehidupan spiritualitasnya, sehingga protocol kesehatan yang ditetapkan pemerintah sudah harus diboboti dengan nilai-nilai etika Kristen.

“Hari ini mencuci tangan bukan sekedar membersihkan tangan dari virus, tetapi membersihakan tangan dari praktek korupsi, kekerasan dalam rumah tangga, pengrusakan lingkungan. Menggunakan masker bukan sekedar agar tidak keluar droplet, tetapi jemaat dilatih untuk berbicara irit kata, berhenti berbicara bohong (HOAX), ujaran-ujaran kebencian. Kemudian menjaga jarak fisik tidak sekedar agar kita terhindar dari penularan tapi agar kita tetap punya daya kritis dengan orang-orang yang terdekat sekalipun, bisa menasihati mereka, bisa doakan mereka, bisa menolong mereka.” Jelasnya

Rikumahu berharap, melalui buku yang telah diterbitkan itu, warga jemaat di Klasis Pulau Ambon ataupun klasis-klasis lainnya dapat menyikapi serta menghadapi pandemic Covid-19 dengan iman kristiani serta pendekatan teologi. Hal ini dimaksudkan agar bukan sekedar mengalahkan Covid-19, tetapi jemaat juga dapat menata kehidupan kristiani yang lebih baik.

Penyerahan Buku “Mozaik Geliat Umat di Masa Pandemi” dan “Remaja dan Covid-19” Kepada Ketua MPH Sinode GPM, Pdt. Elifas Maspaitella, M.Si

Senada dengan Rikumahu, Ketua MPH Sinode GPM Pdt. Elifas Maspaitella, M.Si, dalam sambutannya berharap agar karya-karya brilian dari anak-anak remaja maupun anggota jemaat GPM tetap berlanjut dan akan terus dikembangkan sehingga dapat melahirkan banyak buku bermutu yang ditulis sebagai respons iman Jemaat GPM.

“Jadi kita belajar dari teologi kita, kita belajar dari cara berpikir kita, kita belajar dari ungkapan-ungkapan ekspresi iman yang lahir dari lingkungan kita sendiri, jadi tidak belajar dari orang lain, biarlah oranglain belajar dari kita.” Ujar Maspaitella

Ketua MPH Sinode GPM itu juga berterima kasih kepada Klasis Pulau Ambon atas peluncuran dua buku tersebut, sembari menegaskan agar tradisi menulis harus dihidupkan disemua klasisi GPM untuk bagaimana terus melahirkan karya-karya yang baru dalam seluruh pengalaman melayani di jemaat.

Dia katakan, buku-buku yang ditulis itu betul-betul lahir dari riset mendalam yang dikerjakan oleh orang-orang yang memang secara khusus ahli dibidangnya, baik secara metodologi, secara teologi dan telah menampung respons iman umat secara khusus dimasa pandemi.

“Beberapa waktu yang lalu mungkin Indonesia di getarkan dengan buku teologi Bencana, saya yakin hari ini kita digetarkan dengan buku Mozaik Pandemi Covid-19 hasil karya Klasis Pulau Ambon” ujarnya lagi

Getaran ini adalah sesuatu yang akan terus menginspirasi gereja untuk benar-benar menghidupkan tradisi jemaatnya sebagai akademik, tradisi intelektual didalam pola dan model-model bertheologi yang sudah mesti kita kembangkan dari seluruh kekayaan theologi GPM.

“Saya tentu berharap ini akan menjadi bacaan wajib untuk kita semua supaya kita mendapatkan model riset yang efektif, kita juga mendapatkan pola analisis sederhana dalam memahami realitas yang sedang kita hadapi secara bersama-sama.” ungkapnya

Ketua Klasis Pulau Ambon dan Ketua MPH Sinode GPM saat foto bersama Remaja Sektor Karmel, Jemaat GPM Bethesda.

Akan tetapi, bagi Maspaitella, hal yang paling penting juga adalah gereja dapat mengenali respons iman umat dalam situasi pandemic agar dapat menuntun umat untuk menjadi masyarakat yang tangguh secara iman, secara ekonomi dan sosial ditengah-tengah situasi pandemic Covid-19.

Maspaitella dalam sambutannya juga menyampaikan, kedua buku yang diluncurkan oleh Klasis Pulau Ambon itu merupakan kado yang luar biasa bagi GPM di usia ke-86 Tahun dalam upaya menata langkah gereja kedepan guna peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang difokuskan kepada anak-anak.

Sehingga gereja harus mengatur langkahnya, mengatur rencananya secara matang supaya seluruh kekuatan sumber daya gereja itu bukan hanya dapat dibentuk tetapi kelak benar-benar berguna bagi pengembangan pelayanan gereja bagi hidup masyarakat yang lebih luas.

“Saya kira kita bisa bermimpi jika anak-anak remaja ini terus kemudian dibimbing dan mengembangkan kapasitas kemampuan mereka.” tandas Maspaitella.

Pembedah Buku, Pdt. Dr. John Ruhulessin, M.Si bersama Pdt. Steve G.C. Gasperz, Editor Buku “Mozaik Geliat Umat di Masa Pandemi” dan Yamres Pakniany, Editor Buku “Remaja dan Covid-19.

Hadir sebagai pembedah dalam bincang buku GPM Klasis Pulau Ambon, Akademisi Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Pdt. Dr. John Ruhulessin, M.Si  sekaligus Mantan Ketua Sinode GPM itu mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Klasis Pulau Ambon serta memberikan bobotan berupa masukan guna meperkaya riset dan penulisan buku oleh Klasis Pulau Ambon bahkan Sinode GPM secara umum.

Untuk diketahui, peluncuran buku “Remaja dan Covid-19” serta “Mozaik Geliat Umat di Masa Pandemi” itu dihadiri oleh Rektor IAKN Ambon, Dekan Fakultas Teologi UKIM, Ketua-ketua Klasis dalam lingkup Pulau Ambon, Ketua Klasis Pulau Banda dan Ketua-Ketua Majelis Jemaat dalam Lingkup Kalsis Pulau Ambon. (J-01)

  • Bagikan